Webinar STIEPARI Semarang Bahas Navigasi Ekologi Budaya untuk Mewujudkan Pariwisata Inklusif di Era Digital

Program Pascasarjana Magister Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata Indonesia (STIEPARI) Semarang sukses menyelenggarakan webinar nasional bertajuk “Navigasi Ekologi Budaya dalam Pariwisata Inklusif: Literasi dan Transformasi Representasi di Era Modernitas” pada Sabtu, 23 Mei 2026. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom ini menghadirkan akademisi, praktisi industri perhotelan, serta pemerhati pariwisata untuk membahas tantangan dan peluang pelestarian budaya di tengah derasnya arus digitalisasi.

Acara dibuka oleh Dr. Andhi Supriyadi, S.T., S.E., M.M., M.H. selaku Opening Speaker yang menegaskan pentingnya pendidikan tinggi pariwisata dalam membangun sumber daya manusia yang mampu menjaga keseimbangan antara perkembangan teknologi dan pelestarian nilai-nilai budaya lokal. Selanjutnya, Dr. Yustina Denik Risyanti, S.Pd., M.M.Par. sebagai Keynote Speaker mengajak peserta untuk memahami bahwa budaya bukan hanya aset pariwisata, melainkan identitas yang harus dijaga keberlanjutannya melalui pendekatan yang inklusif dan berorientasi pada masyarakat.

Webinar menghadirkan sejumlah narasumber berpengalaman, yakni Hendri Kurniawan, S.Tr.Par., S.M., General Manager Hotel Grand Verona Samarinda dan Ketua IHGMA Kalimantan Timur; I Gusti Made Juniarta, S.M., General Manager Patra Cirebon Hotel & Convention; Hari Purwanto, S.E., Operations Manager Homestay UGM sekaligus Dosen Praktisi STIE Pariwisata API Yogyakarta; serta Pungky Dios Purnomo, S.M., General Manager Patra Anyer Hotel. Diskusi dipandu oleh Sri Hartanti Yulianingsih, S.E., Direktur PT. Aqsha Multi Corpora dan Wakil Ketua KADIN Kota Semarang Bidang Promosi dan Pariwisata.

Dalam pemaparannya, para narasumber menyoroti fenomena digitalisasi yang telah mengubah cara masyarakat memandang dan mempromosikan budaya lokal. Media sosial dinilai sering kali mereduksi kebudayaan menjadi sekadar konten visual yang menarik secara estetika tanpa menghadirkan pemahaman mendalam mengenai nilai, filosofi, dan sejarah yang terkandung di dalamnya. Akibatnya, berbagai tradisi dan simbol budaya berisiko mengalami pergeseran makna bahkan kehilangan konteks aslinya.

Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah kecenderungan digitalisasi yang mengubah berbagai ritual budaya dan keagamaan dari ruang sakral menjadi konsumsi publik demi kebutuhan konten. Para pembicara menekankan bahwa tantangan terbesar saat ini bukanlah perkembangan teknologi itu sendiri, melainkan bagaimana masyarakat mampu menggunakan teknologi secara bijak agar tidak mengikis nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Meski demikian, webinar ini juga menyoroti berbagai peluang yang dapat dimanfaatkan melalui transformasi digital. Teknologi seperti QR Code, digital storytelling, dan virtual heritage dinilai mampu menjadi sarana edukatif untuk memperkenalkan kearifan lokal kepada masyarakat global. Dengan pendekatan yang tepat, digitalisasi dapat memperkuat identitas budaya sekaligus meningkatkan kualitas pengalaman wisata yang lebih bermakna dan berkelanjutan.

Para narasumber juga menekankan pentingnya model kolaborasi Pentahelix, yang melibatkan unsur pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media dalam pengelolaan destinasi wisata. Melalui sinergi tersebut, masyarakat lokal tidak lagi hanya menjadi objek tontonan wisata, tetapi menjadi subjek utama yang memiliki kedaulatan atas narasi budaya mereka sendiri.

Kegiatan ini sekaligus memperkuat komitmen STIEPARI Semarang sebagai institusi pendidikan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pengembangan kompetensi industri pariwisata dan perhotelan, tetapi juga berperan aktif dalam membangun kesadaran kritis terhadap pelestarian budaya di era modern. Webinar ini memberikan pemahaman bahwa teknologi harus ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat dan mengamplifikasi kearifan lokal, bukan sekadar alat komersialisasi yang mengabaikan nilai-nilai budaya.

Melalui diskusi yang berlangsung interaktif, peserta memperoleh wawasan baru mengenai pentingnya literasi digital, penguatan identitas budaya, serta strategi pengelolaan destinasi yang inklusif dan berkelanjutan. Kegiatan ini diharapkan menjadi kontribusi nyata STIEPARI Semarang dalam mendorong terwujudnya pariwisata Indonesia yang berdaya saing, berakar pada budaya lokal, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top